Penipu Jatuh Cinta 1





Namaku Aisri, umurku 25 tahun. Sekarang aku bekerja sebagai staff di salah satu perusahaan swasta di Bandung. Sejak jaman SMP aku memiliki kebiasaan buruk, yaitu suka ngisengin orang mulai dari bikin si gendut jatuh saat mau duduk gara-gara kursinya aku ambil, sampe masuk-masukin sampah ke dalam tasnya temen cowok yang naksir aku… hehehe. Hingga akhirnya sekali waktu di usiaku yang sudah dewasa aku ngerjain orang dan akhirnya aku sendiri yang malah kena batunya.
Dulu saat awal tahun 2010, aku pernah menipu seorang pria yang bernama Arie. Dia seorang polisi kehutanan yang bertugas di BKSDA Jabar. Kejadiannya berawal ketika saat itu, pas malem-malem aku merasa jenuh di rumah sendirian. Aku buka facebook di ponselku, kubuka laman facebook beberapa temannku termasuk facebook Arie (sebelumnya aku pernah beberapa kali chating dengan Arie di Fb, tapi tidak intens). Kemudian aku buka profil FB Arie, di profilnya tersebut dia mencantumkan no hp nya. Iseng-iseng aku pijit dan ternyata no nya aktif, kemudian aku matikan. Beberapa saat kemudian dia sms aku isinya begini :
“Siapa ni?”
Aku balas saja asal “Imas, kamu siapa?”
aku Rohman, Tau nomer aku dari siapa?
“dari temen”
“Siapa?”
Aku ga bales, aku pikir males juga ngeladeninnya. Kemudian beberapa saat kemudian dia telpon aku. Aku coba tidak mengangkatnya, tapi kemudian aku berfikir biar aku ga di telponin lagi lebih baik mengangkatnya.
Siapa ni?” katanya
uda dibilang aku Imas, mau ngapain nelpon?”
“kamu temen aku yaa??”
“Bukan, aku ga kenal situ kok?”
“Bohong, pasti kamu temen aku mau ngerjain aku kan?” katanya lagi.
Bukan. Aku ga kenal situ” jawabku meyakinkan.
“Uda lah ga usah boong loe, gw tau kok”
Karena males berdebat dengan dia, akhirnya aku matikan aja HP ku.
***

Besok malemnya dia masih aja tanya-tanya siapa aku, karena kesel aku pura-pura aja ngaku nama aslinya Rahmayani orang Sumedang. Dari situlah komunikasi antara aku dan Arie berlanjut. Aku ngakunya seorang mahasiswi Fakultas Pertanian UNPAD semester 6, dan blab bla bla. Perkataanku itu seakan mengalir begitu saja tanpa aku pikir dahulu.
Dua minggu berlalu dia minta alamat aku di facebook, tanpa pikir panjang aku buat aja akun palsu atas nama Naura Rahmayani. Adapun photonya saat itu aku ambil dari photo2 temen Fb aku, Marina. Kebetulan photo cewek itu cantik banget, yaa uda aja aku ambil buat ngibulin dia. Dianya percaya aja dengan apa yang aku bilang. Sampai akhirnya tanpa aku sadari tiba-tiba saja ada perasaan aneh dihatiku. Aku yang awalnya berniat untuk ngerjain dia ternyata makin lama menganggap itu nyata. Tiba-tiba saja aku jadi merasa sayang banget sama dia dan ga mau kehilangan dia.
Lambat laun perasaanku padanya semakin mendalam, aku makin sayang sama dia. Semenjak saat itu aku merasa diriku memiliki kepribadian ganda, antara Aisri dan Rahmayani. Satu sisi aku sayang dengan dia tapi di sisi lain dia ga kenal Aisri, wanita yang selama ini sering dia hubungi, dia rindukan itu adalah sosok Rahmayani yang tergambar lewat sosok Marina.
Tepat 3 bulan komunikasi yang terjalin antara aku dan dia, dia ngajak aku ketemu. Sebelumnya pernah beberapa kali dia ngajak ketemu, tapi aku selalu saja menolak karena aku belum siap buat kehilangan dia selamanya. Akhirnya tepat tanggal 16 Mei 2010 aku ketemu sama dia. Dia datang sendirian dari Banjarsari Ciamis ke Bandung, sementara aku ditemani sahabat aku Rosi. Saat itu kita janjian ketemu di salah satu tempat makan cepat saji di Bandung. Pas awal aku liat dia, tiba-tiba perasaan bersalah aku ke dia semakin besar. Aku menangis sebelum akhirnya aku temui dia. Aku bener-bener ga tega buat jujur sama dia tentang siapa Rahmayani sebenarnya. Maka saat itu aku putuskan untuk tidak menemui dia, tapi sahabatku Rosi meyakinkan aku untuk menemui dia, hingga akhirnya aku beranikan diri untuk menemuainya. Awalnya dia kaget ketika aku coba perkenalkan diri aku sebagai Aisri, karena dia ga ngerasa buat ketemu Aisri. Yang hendak dia temui adalah Rahmayani, gadis cantik yang ia kenal dari telpon nyasar.
Setelah akhirnya aku menjelaskan semuanya pada dia, bahwa Rahmayani yang dia kenal itu sebenarnya bohong semuanya bohong. Baru dia ngerti bahwa saat itu ia sedang ditipu, aku tau mungkin perasaannya saat itu bener-bener kecewa tapi dia masih berusaha untuk tersenyum. Seolah dia berusaha menyembunyikan kekecewaannya dibalik senyumnya itu. Dan saat itupun aku bener-bener merasa malu banget sama dia. Dan perasaanku kala itu jauh lebih hancur dari dia, saat itu aku berusaha menyembunyikan tangisku dalam sebuah ketegangan yang luas biasa. Aku terus-terusan minta maaf sama dia seolah setengah memaksa. Sampai-sampai saat itu aku tidak menghiraukan tatapan orang-orang disekelilingku, yang mungkin merasa terganggu dengan suaraku yang keras.
Baru setelah suasana diantara kita agak sedikit tenang, dia berbicara. “Waaahhhh… ini klo jadi sutradara pasti dapet penghargaan nih” katanya. Tapi aku cuma diam dalam lamunanku, satu sisi aku merasa kejujuranku saat itu seolah mengantarkan aku pada sebuah ketenangan batin tapi di sisi lain aku juga pasti akan kehilangan dia.
Trus dengan apa yang terjadi sekarang, kita mau gimana?” Tanya Arie kepadaku.
“Ya ngga gimana-gimana” jawabku. (Maksud ga gimana-gimana disini, aku menginginkan klo kita memulai semuanya dari awal dan melupakan apa yang udah aku lakuin ke dia tapi ….. )
“Ok. Trus sekarang kita mau kemana dulu neh?” katanya.
“Ga. aku mau pulang” kataku
“Bener neh? Ga nyesel? Awas nanti nyesel loh?” tambahnya lagi
“bener… aku ga bakal nyesel kok” jawabku berusaha meyakinkan.
“ya udah klo gitu saya mau pulang “ katanya lagi
“ya silahkan” jawabku mempersilahkan
“kamu duluan, ladies first” katanya lagi
“ok” jawabku sembari bersalaman dengannya.
Sebenernya saat dia menyalami aku untuk yang terakhir itu, aku ingin menahan tangannya untuk tetap bersamaku karena aku mencintainya. Tapi apa mau dikata, saat itu pun aku merasa malu atas apa yang telah aku lakukan kepadanya. Akhirnya akupun melepaskan pagangan tangannya setelah beberapa saat kutahan.
Aku dan sahabatku pun berlalu pergi, tapi setelah beberapa jauh kita melangkah aku kembali menoleh kebelakang mencari-cari dimana dia, tapi aku tidak menemukannya.
***
Malamnya, kedua sahabatku Rosi dan Anita datang kerumahku. Aku menangis dipelukan mereka berdua. Air mataku seakan tak bisa berhenti menetes. Saat itu aku coba sms atau telphone dia, tapi dia ga bales. Sampai akhirnya tengah malem, aku coba lag isms dia untuk memastikan bahwa dia baik-baik saja. Kemudian dia membelas sms ku.
“PENIPUAN ANDA SAYA MAAFKAN, JANGAN GANGGU SAYA LAGI”
Baca sms itu tangisanku sampai menjadi-jadi, kedua sahabatku yang malam itu menginap di rumahku terbangun dan mencoba menenangkan aku. Hingga akhirnya aku tidur dengan terisak-isak.
***
Tiga bulan telah berlalu, sebagai penebusan rasa bersalahku pada Arie, aku akhirnya kembali melanjutkan kuliah S1 aku yang sempat tertunda. Aku kuliah di salah satu Universitas Swasta di Bandung, mengambil program studi agribisnis.
Kemudian setelah beberapa bulan aku kuliah, sekitar tanggal 28 Oktober 2010, aku kembali menghubungi Arie. Dia bales SMS aku, tapi hanya seperlunya aja. Ketika aku minta maaf sama dia, dia bilang mau memaafkan aku asal aku datang ke Ciamis buat ketemu dia sama ibunya. Saat itu aku menyanggupinya, namun beberapa hari kemudian saat aku konfirmasi dia untuk kepergiannku ke Ciamis, dia bales sms aku untuk jangan datang ke Ciamis.
“Setelah saya pertimbangkan setelah shalat magrib, lebih baik kamu ga usah datang” balasnya lewat sms.
“Ok” jawabku
Jujur, denger itu aku kecewa banget tapi apa boleh buat dia tidak mengharapkan kedatangan aku. Hingga saat itu aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan temui dia tiga tahun lagi. Selama tahun 2011-2012 aku masih suka sms dia sebulan sekali sekedar nanyain kabar, dan dia masih suka bales sms aku seperlunya aja. Tapi mulai januari 2013 dia mulai tidak pernah bales SMS aku lagi, dan sejak april 2013 hingga sekarang aku ga pernah sms dia lagi bahkan sms untuk sekedar bilang selamat ulang taun aja ngga.
Dan saat bulan September 2014 kemaren ketika aku akan menghadapi sidang komprehensif tanpa sengaja aku buka twitter dia, di favoritnya aku liat mention temennya. Disitu aku liat Arie lagi nyuapin kue ulang taun pada salah seorang cewek cantik. Dan parahnya cewek itu ternyata adik dari temen aku sendiri yang sedang melanjutkan pendidikan masternya di salah satu universitas negeri di Bandung. Dari situlah aku mulai ga bersemangat untuk menyelesaikan sidang komprehensif. Semangatku seolah beterbangan seperti kapas yang tertiup angin. Karena lelaki yang aku tunggu untuk aku temui ternyata telah berbahagia dengan perempuan lain yang jauh sangat lebih baik dari aku. Sementara aku masih saja terjebak dalam perasaan bersalah di masa lalu, aku masih sendiri.
“Kehidupan akan terus berjalan, aku berjanji pada diriku sendiri untuk mencari kebahagiaanku meski tanpa Arie. Dan aku cukup bersyukur atas apa yang telah terjadi, kejadian itu memberikan aku banyak pelajaran untuk senantiasa berbicara dan berperilaku jujur terhadap diri sendiri dan orang lain. Karena kejujuran adalah suatu hal yang paling penting dalam hidup ini.”

“TO BE CONTINUED”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

STNK yang Hilang

Wisata Pulau Tidung