Wisata Pulau Tidung
Minggu kemaren pas
long weekend, aku bersama dengan ketiga sahabatku memutuskan untuk
menghabiskannya di Pulau Tidung. Rencana awalnya sih kita mau pergi ke bali,
tapi karena ga tau cara booking tiket onlinenya akhirnya kita memutuskan untuk
pergi ke Kepulauan Seribu. Saat itu, aku dan ketiga temanku berangkat dari
rumah sekitar jam setengah delapan pagi dari rumah di Kasokandel ke Kedawung
dengan ongkos sekitar Rp. 60.000,- untuk 4 orang padahal ongkos Kasokandel –
Kedawung pada umumnya cuma Rp. 10.000,-/orang tapi karena temenku kelebihan
duit akhirnya dia bayar lebih. Kemudian dari Kedawung kita ke stasiun Kejaksan
dengan ngeborong angkot GP sekitar Rp. 30.000,- padahal jaraknya deket doing cuma
lagi-lagi karena kelebihan duit temen aku ga nawar lagi dan langsung setuju.
Setelah itu kita
cetak tiket Cirebon Ekspres kelas eksekutif keberangkatan jam 10.00 WIB seharga
Rp. 180.000, - sekali jalan doang. Tidak lama kemudian kami segera melakukan boarding
ticket. Setelah kami berempat mendapati gerbong yang tertera pada ticket, yaitu
gerbong 2 dengan kursi 3a, 3b, 4a dan 4b. Aku dan Lili duduk di kursi 3a dan 3b
lalu dibelakang kami duduk dua temanku yang lain Diar dan Maya. Sengaja kami
tidak duduk saling berhadapan karena takut pusing. Sepanjang perjalanan kami
menikmatinya karena suasana dalam gerbong cukup bersih, bahkan sesekali kami
tertidur pulas. Selain itu pula, makanan yang ditawarkan juga cukup enak dan
harganya cukup terjangkau. Kami berempat pesen 1 porsi nasi sate, nasi goreng, nasi
rendang, baso dan 4 gelas teh manis anget hanya Rp. 96.000,-.
Kita sampe di
stasiun gambir sekitar jam 14.00 WIB telat 57 menit dari jadwal yang
diperkirakan. Selanjutnya kami cari taksi blue bird, sengaja cari taksi resmi
biar klo ada apa-apa kita mudah komplainnya. Sepintas aku dengar dari supir
taksi lain menawarkan harga Rp. 75.000,- menuju hotel 55 di Jalan Pangeran
Jayakarta, tapi kami tidak mengindahkannya. Nah klo naik taksi yang berargo
hanya sekitar Rp. 40.000,- jadi bisa lebih murah kan ? hee…
Karena hotel 55
yang kami tuju keliatan dari luar cukup kotor, maka kami pun membatalkan
reservasi kami sebelumnya di hotel tersebut. Beberapa kali sambil
keliling-keliling kami coba buat reservasi di hotel Aston, Amaris dll yang ada
di sekitar Mangga Dua Square tapi semuanya penuh. Akhirnya sopir taksi yang
kami tumpangi menunjukan salah satu hotel sederhana di kawasan sekitar Kota Tua,
yaitu hotel De Qur. Karena kami sudah lelah, akhirnya kami memutuskan untuk
menginap di hotel tersebut. Harganya juga cukup murah sekitar Rp.
257.500,-/kamar. Akhirnya kami pesan dua kamar saja, karena kami hanya bermalam
untuk satu malam saja.
Dalam hotelnya
sekilas terlihat bersih, tapi ternyata banyak sekali kutu kasur, jangkrik dan
kawan-kawannya yang bercokol di kasur. Selain itu, sprei dan handuknya juga
agak bau dan terlihat garis-garis cokelat bekas pake. Tapi kami pikir sudahlah
biar saja Cuma semalam ini. Daripada bĂȘte di kamar yang kurang nyaman tersebut,
akhirnya kami memutuskan untuk jalan-jalan sebentar di Mangga Dua Square. Kita
makan di salah satu tempat makan disana yang namanya aku lupa heheh, setelah
itu lanjut jalan-jalan. Sambil jalan kami lihat ada tempat karoke di sana,
setelah itu kami ikuti petunju arah yang ditempel di tiang-tiang besar. Akhirnya
karena lelah nyari dan tak kunjung sampai, akhirnyakami memilih naik lift
menuju lantai 5 mencari Sense Karoke. Akhirnya di lantai lima kami menemukan
tempat seperti lobi hotel dan ternyata itu adalah pintu masuk menuju Sense
karoke. Di dalamnya ada escalator, kami naik kesana dan kami hanya melihat
lampu remang-remang dan gambar-gambar botol bir yang besar-besar. Mengetahui itu,
akhirnya kami balik lagi keluar karena ternyata itu tempat dugem bukan family karoke
yang kami maksud. Sebelumnya memang ketika hendak masuk menuju loby banyak
sekali orang-orang yang memperhatikan kami, tapi kami berusaha terlihat cuek
hehe…mungkin karena aku dan Maya mengenakan jilbab. Akhirnya kami memutuskan
untuk kembali lagi ke hotel sekitaran jam 7 malam.
Sesampainya di
hotel kami pesan lagi makanan karena lapar lagi, aku pesan dua porsi sop ayam. Setelah
lama menunggu akhirnya pesanan datang, setelah bayar aku coba mencicipi sop
ayamnya, sangat tidak enak dan baunya amis banget. Akhirnya kami berdua tidak
jadi makan, entah dengan dua temen saya di kamar sebelah. Karena takut
kelaperan, akhirnya kami hendak pesen makanan yang lain tapi ternyata café yang
ada di hotel tersebut telah tutup. Akhirnya kami ditawari office boy untuk
pesen makan di luar. Tidak lama kemudian makanan yang kami pesen pun datang ,
yaitu semangkuk mie rebus heheh…kami Cuma pesen satu porsi doang karena takut
harganya mahal seperti satu porsi sop ayam yang sebelumnya kami pesen. Harga satu
porsi mie rebusnya hanya Rp. 7.500,-/porsi sedangkan sop ayam per porsinya
sekitar Rp. 30.000,-.
Sehabis makan kami
sholat lalu tidur, tapi aku tidak bisa memejamkan mata karena merasa kurang
betah. Bantal tidur yang kotor sengaja aku tutup dengan pashmina biar tidak bau
hee tapi tetap saja aku ga bisa tidur sampai pagi harinya. Setelah jam 5 pagi
aku segera siap-siap biar tidak telat nyampe di dermaga 17 Pantai Marina Ancol.
Kemudian kami berangkat jam 6 pagi dengan menempuh perjalanan selama 15 menit
menggunakan taksi. Sesampainya di sana kami langsung menuju dermaga 17 dan ikut
berkumpul dengan orang-orang yang hendak pergi ke Pulau Tidung. Lama kami
menunggu dipanggil untuk naik speedboat, tapi tidak dipanggil-panggil. Saat hamper
putus asa, tiba-tiba ada petugas dermaga yang menghamipi kami dan bertanya apakah
kami sudah melakukan registrasi, akhirnya kami hanya saling pandang satu sama
lain karena memang kami tidak tahu klo harus melakukan registrasi terlebih
dahulu. Akhirnya aku dan Diar melakukan registrasi tidak jauh dari dermaga 17. Setelah
lama menunggu, kami belum juga dipanggil-panggil. Baru sekitar jam setengah
sepuluh akhirnya namaku dipanggil dan akhirnya kami mendapat tempat duduk di
dalam speedboat yang rasanya pengap banget.
Dengan speedboat
kami menuju Pulau Tidung sekitar 1 jam lebih. Selama di perjalanan salah satu
temanku agak sedikit mabok karena udara di dalam speedboat agak sedikit pengap
meski sudah ada AC di sana. Di dalam kami tidak bisa melihat pemandangan yang
indah karena kami dapat tempat duduk yag tidak ada jendelanya, akibatnya kami tidak
bisa menikmati perjalanan. Belum lagi di depan kami anak-anak kecil
(orang-orang keturunan China) ribut terus tidak mau diam. Benar-benar tidak
nyaman pokoknya.
Setelah 1 jam kami
menempuh perjalanan akhirnya speedboat yang kami tumpangi menepi juga di
dermaga kecil pintu masuk di Pulau Tidung. Di sana kami menunggu agen travel
yang menjemput kami di terminal penumpang. Lama juga kami menunggu karena tour
guidenya katanya masih dengan wisatawan lain. Baru sekitar jam 11 siang kami
bertemu dengan tour guidenya, benar-benar melelahkan. Dari situ kami diajaknya
menuju homestay yang jalannya sulit aku hapal dan terasa sangat jauh.
Lama berjalan kaki
sambil gendong ransel dan koper, akhirnya kita sampai di homestay yang sangat
sederhana. Didalam masih ada tamu yang hendak pergi dan masih beres-beres. Kami
juga harus menunggu beberapa lama. Setelah tamu yang lain pulang, akhirnya kami
bisa masuk di homestay dan langsung mencari kasur untuk sekedar rebahan.
Setelah
istirahat sebentar, kami merasa lapar dan akhirnya mencari makan di warung yang
tidak jauh dari tempat kami. Kami pun pesen 4 porsi mie rebus rasa ayam bawang,
3 botol air mineral ukuran sedang, 1 botol minuman vitamin C dan 4 buah kerupuk
yang semuanya menghabiskan biaya sekitar Rp. 108.000,- . ketika hendak bayar
aku sempet kaget tapi ya sudahlah kami mengerti karena sepertinya memang jauh
dari pasar heee…
Kata
tour guide nya jangan mau beli makan atau oleh-oleh di sana karena harganya
mahal-mahal, tapi klo kita tidak beli makanan kita mau makan apa coba sementara
makanan yang disediakan agen travel sukatelat datang. Jadi lain kali buat temen-teman
yang hendak bepergian ke luar pulau, klo pengen hemat ya bawa bekel dari rumah
hehehe…
Setelah kami makan dan istirahat
sholat, akhirnya kami pergi menuju jembatan cinta, snorkeling dan naik banana
boat. Tapi setelah sampai disana dengan menggunakan sepeda kami hanya snorkeling
dan naik banana boat saja, tidak pergi ke jembatan cinta karena kami fikir itu
biasa-biasa saja. Saat snorkeling kami naik perahu nelayan bersama satu grup
tamu lain, disana lautny tidak jernih dan juga tidak terlalu banyak ikan atau
yang lainnya dilaut. Selama kurang lebih satu jam aku snorkeling, aku hanya
melihat ikan satu dua ikan kecil yang lewat dan yang seperti ulat seribu tapi
berwarna tosca, selebihnya aku hanya melihat karang-karang yang berwarna putih saja.
Kami pun diphoto underwater dan hasilnya blur ga jelas. Pokoknya tidak seindah
yang dibayangin deh… naik banana boat pun kami tidak dijatuhkan ke pantai
karena salah satu dari teman kami menolaknya. Setelah itu akhirnya kami balik
ke homestay untuk bersih-bersih dan bersiap melihat sunset di ujung barat Pulau
Tidung. Dan lagi-lagi kami pun tidak beruntung, kami tidak dapat melihat sunset
karena terhalang awan hitam yang pekat. Disana kami Cuma photo-photo di tepi
pantai dan kembali lagi ke homestay. Pas bakar-bakar ikan pun kami tidak datang
karena kami pikir pasti tidak seru lagi…karena
kami tidak ikut bakar ikan, kami pun di anterin ikan laut bakar yang rasanya
cukup enak. Setelah makan ikan bakar, kami langsung memutuskan untuk tidur.
Keesokan harinya, kami langsung
beres-beres untuk pulang dan pas pulang kami dapet tempat duduk di luar
speedboat. Dalam perjalanan pulang pun kami begitu menikmatinya tidak seperti
saat pergi. Ada banyak pemandangan yang bisa aku lihat di sana. Setibanya di
pantai Marina Ancol, aku melihat sebuah kapal yang saat dulu ingin sekali
kulihat tapi saying aku tidak bisa sekedar memoto atau diphoto disana karena
kami harus segera menuju stasiun Gambir.
Demikian yang dapat saya ceritakan,
semoga ini bisa jadi referensi bagi anda yang hendak pergi berlibur ke Pulau
Tidung.
Komentar
Posting Komentar