Amnesia Singkat
Aku bangun dan masih dalam keadaan memakai seragam kerja berwarna terlur asin. Kulihat beker merah yang disimpan di atas lemari kecil di samping kasur. Jarumnya menunjukkan pukul tujuh, aku kaget. Aku kesiangan, pikirku. Sontak saja aku loncat dari kasur dan mengambil handuk yang menggantung di jemuran kecil. Aku mandi dengan cepatnya. Selesai mandi, segera kukenakan seragam kerja baru yang tergantung di kastok. Kukenakan riasan seadanya, sepatu putih tak bertali biar cepat.
Saat itu, aku benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana respon si kepala meja jika aku datang terlambat. Mungkin akan dibawanya lagi aku menghadap HRD yang super judes itu. Berarti dalam satu bulan iti aku sudah mengumpulkan dua surat SP. Aku merasa terancam. Sementara pikiranku sedang berpikir macam-macam. Aku buka pintu kamar kostku. Kulihat di luar gelap.
"Mungkinkah ini dukhan?" gumamku seolah tidak percaya dan mulai cemas.
“Mungkinkah iniiii…….?” aku mulai ketakutan.
Pikiranku tidak karuan memikirkan segala macam tentang hari kiamat. Di tengah ketakutan, kemudian terdengar suara sendok yang dipukul-pukulkan ke mangkok. Aku berlari ke arah pintu gerbang.
"Bang, bang, berhenti ! ! !" sambil kugerak-gerakan tanganku dan setengah berteriak.
"Mau pesen berapa neng?" tanyanya sambil menghampiriku.
Ditanya oleh penjual cuanki, aku hanya berdiri mematung, seolah ragu. Sebenarnya ini pagi apa malam, pikirku. Aku berusaha mengingat sesuatu sebelum aku terbangun, tapi tidak ingat apapun.
“Neng, neng??” Abang penjual cuanki memanggilku.
“Ah...iya bang. Cukup satu aja, pake mie instan ya?” jawabku penuh rasa kaget tapi masih tetap linglung.
Sambil menunggu cuankiku dibuat, aku melamun saja seperti orang linglung. Mau bertanya ini malam atau siang, aku agak sedikit malu. Sengaja aku diam, memperhatikan lingkungan sekitar, kuamati dalam diam. Semakin lama semakin aku ingat-ingat kejadian sebelum aku tidur. Ternyata… sore tadi itu, aku pulang telat. Karena harus menyelesaikan lembur hingga pukul 4 sore. Normalnya aku pulang pukul 2 siang, kebetulan saat itu aku masuk shift pagi. Aku pulang menyusuri jalan tikus menuju kostan, biar lebih cepat. Sesampainya di kostan, ku rebahkan tubuhku di kasur. Lalu penglihatanku terfokus pada langit-langit kamar, kupandangi setiap jengkal langit-langit berwarna putih itu. Entah kenapa kamar kost berukuran 3 x 2.5 m itu terasa lebih luas. Seperti kamarku di kampung, pikirku. Aku jadi teringat akan rumah, bapak, ibu dan adik-adiku. Aku rindu mereka. Kupejamkan mataku, kubayangkan seolah pulang kampung dan mereka menyambutku dengan hangat. Lalu aku tertidur.
Komentar
Posting Komentar